Mig33 Majalengka Comunity

Selamat datang di forum Mig33 Majalengka

    INFO BUDAYA tah "Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk"

    Share

    riqizd
    Kopral 1
    Kopral 1

    Leo Number of posts : 104
    Registration date : 2009-03-14
    Age : 92
    Location : Cigasong-the Next metropolitan city
    Job/hobbies : Neangan duid...
    Mig33 ID : Riqizd >> tapi di banned ku nini babaturan

    INFO BUDAYA tah "Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk"

    Post by riqizd on Fri Apr 17, 2009 10:18 am

    Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk
    [2007-02-20]


    Sejarah, berasal dari bahasa Arab “al sajarotun” atau “sajarah” artinya suatu pohon. Pohon terdiri dari batang, akar, daun, bunga, dan buah (atau ubi bagi pohon tertentu karena buahnya berada disela-sela akar) serta organ-organ pohon yang lainnya. Setiap pohon mempunyai karakter dan kelebihan masing-masing, sehingga ada suatu pohon yang lebih terkenal mungkin karena mempunyai khasiat untuk pengobatan dari buahnnya atau karena mempunyai bunga yang indah menawan, bahkan ada pula pohon yang dianggap sebagian orang sebagi simbol yang menyeramkan seperti pohon Oak.

    Berbekal dari analogi pemikiran terhadap suatu pohon, maka ketika mendengar bahwa di Kampung Nunuk, Desa Cengal Kecamatan Maja hingga sekarang masih ada aktivitas “tenun tradisional” maka segera melakukan kunjungan ke lokasi dimaksud yang berada sekira 10 kilo meter di sebelah Selatan Kota Kabupaten Majalengka. Kami memprediksi dengan asumsi sederhana, bahwa apabila ada buah yang bertahan lama berarti buah itu berasal dari suatu pohon yang berakar kuat sehingga mampu memproduksi buah yang berkualitas. Misalnya, karya indah dari tangan-tangan trampil masyarakat Nunuk berupa kain sebagai produk budaya warisan leluhurnya yang dilakukan melalui proses kerajinan tenun tradisional.

    Eksistensi tenun tradisional yang bertahan hingga sekarang dulu pada zamannya yaitu zaman sebelum bermunculan pabrik tekstil merupakan bagian dari karya modern. Ternyata walaupun sekarang berada di abad yang serba cepat dan cenderung gampang sehingga tenun tradisonal menjadi kalah saing dari pabrik tekstil, tetapi tenun tradisional di Kampung Nunuk masih tetap eksis juga. Secara komulatif eksistensi seperti ini merupakan manifestasi dari citra pribadi para pelaku yang kuat. Kekuatannya itu dilatarbelakangi oleh faktor sejarah kehidupan yang di dalamnya terkandung suatu nilai (ukuran) dan norma (aturan) dalam kesejarahan yang secara turun temurun diwariskan dari orang sebelumnya (leluhur). Sebab, ada hari ini setelah terlebih dahulu ada hari kemarin yang dibawa bersama hasil dari proses dialektika kehidupan yang membentuk situasi dan kondisi sekarang. Sakem (usia sekira 86 tahun) yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan julukan Ambu Boim adalah salah satu contoh seorang figur perempuan yang kuat dalam arti tidak captive mind syndrome. Ia pada zaman Jepang berusia sekira 26 tahun dan sudah berumah tangga, maka sekarang tidak hanya mempunyai cucu dan cicit bahkan bao dan udeg-udeg (penamaan tahapan generasi keempat dan kelima dalam etnis Sunda).

    Walaupun seusia demikian tua dalam ukuran rata-rata usia sekarang, tetapi sampai sekarang ia tetap setia dan piawai dalam kerajinan tenun tradisonal dengan kondisi badan masih nampak bugar dan lincah. Terbukti saat interview penulis di halaman rumahnya dapat menjawab dengan bahasa yang fasih sebagaimana layaknya seorang Ibu berusia lima puluh tahunan, demikian pula saat mengukapkan pengangalamannya di usia masih muda, walaupun tidak dapat menyembunyikan kerutan wajah yang menandakan telah begitu berpengalaman dalam hidup, tetapi dalam menerima tamu terbiasa menampilkan cahaya muka yang ramah bahkan sambil tangan dan kakinya tetap terampil dalam menenun. Menurutnya, bahwa tenun tradisional di Kampung Nunuk sejak dulu hingga sekarang dalam produksinya berusaha menggunakan bahan dasar dari kapas yang ditanam oleh masyarakat setempat, demikian pula untuk warna kain cenderung menggunakan pewarna alami yang diperoleh dari alam di sekitar pula. Adapun proses pekerjaan tenun dijelaskan oleh Anirah (77 tahun), yaitu dari berasal dari kapas kemudian secara bertahap mulai dari; (1) nindes (membuang biji kapas); (2) meteng (memperhalus kapas); (3) nganteh (membuat benang); dan (4) ngulak (pembelitan kapas); serta (5) ninun (pembuatan kain). Karena faktor keterbatasan dan animo dari masyarakat sekarang berbeda dari waktu ke waktu maka produksi untuk sekarang terbatas pula pada bagaimana datangnya pesanan. Ini yang menyebabkan produksi kain terbatas berupa karembong (selendang), urung kasur dan bantal serta boeh (kain kafan), dengan kompisisi warna terbatas antara putih, salem dan merah marun dengan garis cenderung lurus.

    Berdasarkan pengakuan Acim (sekira usia 60 tahun), dulu tenun Nunuk cukup dikenal oleh orang-orang sampai akhir tahun 60-an, terutama di antaranya pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia. Dari catatan sejarah umumnya mendapat informasi bahwa rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Jepang (1942 – 1945) sangat menderita di anataranya karena sangat minim ketersediaan pakaian yang layak sehingga rakyat Indonesia sebagian besar mengenakan pakaian dari karung goni. Kondisi seperti ini di masyarakat Nunuk tidak demikian, bahkan dari justeru kampung Nunuk inilah sebagian orang Jepang dan sebagaian masyarakat yang mempunyai jabatan dan berduit banyak yang ada di sekitar Majalengka khususnya membeli pakaian produk tenun tradisional Nunuk. Tidak hanya Sakem, ternyata masih banyak kaum ibu di Kampung Nunuk yang tetap setia menyumbangkan karya tradisionalnya.

    Misalnya Sunirah, Antimah dan ibu-ibu yang lainnya sampai sekarang berprofesi serupa. Kepiawaian kaum perempuan secara komulatif di kampung ini merupakan produk budaya leluhur yang eksistensinya secara kolektif tetap melibatkan kaum laki-laki, terbukti seperti dalam penanaman atau pengangkutan kapas termasuk dalam penjualan dan pengamanan produknya. Syamsudin (mantan juru Tulis Desa Cengal), menjelaskan bahwa kerajinan tersebut mempunyai hubungan dengan sejarah ratu Barjakasungga yang dikenal sebagai Ibu Langgensari yang hidup sebelum abad 13 Masehi, yaitu salah seorang raja-raja dari Kerajaan Mergalaya (Nunuk sekarang). Brajakasunggga adalah figur perempuan yang cerdas, ia tokoh utama yang membidani masyarakat menjadi masyarakat yang kreatif dan produktif sehingga masyarakat mempunyai keahlian menenun bahkan diperkirakan dari kecerdasan ratu inilah di Majalengka orang mulai bercocok tanam secara teratur. Walaupun belum bisa dipastikan kapan di Nunuk itu mulai ada kerajaan ? Tetapi karena Nunuk diperkirakan sebagai suatu kerajaan yang mempunyai predikat orang tua dari Kerajaan Talaga Manggung yang berdiri sekira abad 14 Masehi, maka Kerajaan Nunuk yang berasal dari kata Nunuhun (dalam bahasa Sunda artinya sabar dalam memohon kepada Yang Maha Pencipta) diperkirakan telah ada jauh sebelum abad ke 14. Seperti yang diungkapan Syamsudin, Kerajaan Mergalaya (yang diperkirakan menganut agama Budha) para rajanya termasuk bagian dari keturunan Kerajaan Banjarsari Rawa Lakbok Ciamis. Kerajaan ini dimulai dari masa kepemimpinan Dalem Makurasa kemudian secara kronologis dilanjutkan oleh beberapa raja di antaranya ratu Brajakasungga.

    Sebenarnya ada beberapa raja dari Kerajaan Mergalaya, baik sebelum maupun sesudah Ratu Barjakasungga, tetapi karena penulisan sejarah harus didukung oleh data otentik mulai dari data primer dan sekunder. Dengan demikian, dalam tulisan ini kami batasi dulu sekilas mengenai rangkaian keterkaitan dengan kerajinan tenun tradisional. Itu pun baru penulis peroleh informasi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang telah disampaikan oleh orang yang dianggap tokoh. (Drs. M. Saroni, M.Ag).

    aggie
    Administrator
    Administrator

    Male Scorpio Number of posts : 299
    Registration date : 2009-03-13
    Age : 25
    Location : Majalengka
    Job/hobbies : Wall Climbing
    Mig33 ID : aggie/agiee/aggie_rastafara

    Re: INFO BUDAYA tah "Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk"

    Post by aggie on Sat Apr 18, 2009 1:02 pm

    wduh lgi malez bca nich bersalah
    tpi kynay infonya bgus bgt love
    thanks for share love


    _________________

    mig33majalengka.hot-me.com

    nene
    Moderator
    Moderator

    Male Scorpio Number of posts : 207
    Registration date : 2009-05-17
    Age : 29
    Location : sindangwangi
    Job/hobbies : game, mig33, music
    Mig33 ID : sindangwangi

    Re: INFO BUDAYA tah "Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk"

    Post by nene on Sun May 17, 2009 8:03 pm

    lol! lol! Wah bs dreplay uy
    oh gtu nya huum hatr nuhun impo na
    lol! lol!

    Sponsored content

    Re: INFO BUDAYA tah "Sekilas Tenun Tradisonal Nunuk"

    Post by Sponsored content Today at 1:08 am


      Current date/time is Tue Dec 06, 2016 1:08 am