Mig33 Majalengka Comunity

Selamat datang di forum Mig33 Majalengka

    INFO KESENIAN KHAS MAJALENGKA

    Share

    riqizd
    Kopral 1
    Kopral 1

    Leo Number of posts : 104
    Registration date : 2009-03-14
    Age : 92
    Location : Cigasong-the Next metropolitan city
    Job/hobbies : Neangan duid...
    Mig33 ID : Riqizd >> tapi di banned ku nini babaturan

    INFO KESENIAN KHAS MAJALENGKA

    Post by riqizd on Fri Apr 17, 2009 10:10 am

    Sampyong Kesenian Khas Daerah Majalengka
    [2007-01-05]


    Pada tahun 1960, di daerah Cibodas Kecamatan Majalengka tumbuh sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan ujungan. Permainan ini merupakan permaian adu ketangkasan dan kekuatan memukul dan dipukul dengan menggunakan alat yang terbuat dari rotan berukuran 60 cm. Pemain terdiri atas dua orang yang saling berhadapan, baik laki-laki maupun perempuan, dipimpin oleh seorang wasit yang disebut malandang. Kedua pemain menggunakan teregos, yaitu tutup kepala yang terbuat dari kain yang diisi dengan bahan-bahan empuk sebagai pelindung kepala. tutup kepala demikian dikenal pula dengan sebutan balakutak. sasaran pukulan pada pemain ujungan tidak terbatas, dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa tangkis. Seorang pemain dapat memukul lawannya sebanyak-banyaknya, atau bahkan dipukul sebanyak-banyaknya, hingga salah seorang di antaranya dinyatakan kalah karena tidak lagi kuat menahan rasa sakit akibat pukulan.

    Ujungan tidak dikategirikan seni beladiri, karena seorang pemain tidak melakukan jurus tangkisan. Walaupun demikian, pemainan ini tetap dianggap sebagai sebuah karya seni karena di dalamnya terdapat unsur kesenian, misalnya seperangkat gamelan pencak silat yang ditabuh sepanjang permainan ujungan dilaksanakan. Adegan ibing pencak silat yang dibawakan oleh kedua pemain, dan bahkan malandang, disajikan sebagai bumbu pada permainan ini. Sebelum melakukan pukulan, kedua pemain melakukan micid pencak silat yang manis. Pukulan dilakukan ditandai dengan seruan sang malandang: "Briuk!", disusul kemudian dengan pukulan ke arah yang diinginkan.

    karena sifat permainan yang terlalu bebas, maka permainan ini dianggap terlalu berbahaya dan tidak banyak orang yang sanggup memainkannya. Beberapa tokoh ujungan mencoba membuat penyempurnaan-penyempurnaan, dengan cara menyederhanakan aturan permainan. Setidaknya terdapat tiga butir aturan esensial yang terdapat pada aturan permainan yang baru, yaitu; (1) seorang pemain hanya diperkenankan memukul sebanyak 3 (tiga) kali pukulan; (2) dan sasaran pukulan hanya sebatas betis bagian belakang, tidak boleh lebih dari itu; (3) pemain dapat bermain pada kelas yang ditentukan menurut usia, misalnya golongan tua, menengah, pemuda dan anak anak.

    Seiring dengan berlakunya peraturan yang baru itu, maka nama ujungan pun ditinggalkan. nama pemain yang lebih populer adalah sampyong yang menurut beberapa nara sumber berasa dari bahasa China, sam = tiga dan Poyong = pukulan. Nama baru itu terucap begitu saja dari salah seorang penonton keturunan China ketika ia menyaksikan permainan tersebut. Kiranya ia tertarik pada jumlah pukulan pada permainan itu hingga kemudian terucap kata Sampyong yang kemudian melekat menjadi sebutan permainan sampai sekarang.

    Sebagai sebuah seni pertunjukan, Sampyong dihidangkan pada acara-acara tertentu, misalnya pada acara hajatan, dan kini lebih sering terlihat pada acara kontes ketangkasan domba (adu domba). Berikut beberapa urutan pertunjukan Sampyong pada suatu acara khusus; (1) seluruh peserta memasuki arena dipimpin oleh seorang wasit, melakukan penghormatan kepada penonton dengan iringan kendang pencak dan lagu Golempang: (2) pertunjukan eksibisi, yang dimainkan oleh kedua orang tukuh ujungan, sebagai pertunjukan pembuka; dan (3) pertunjukan utama, seorang pemain berhadapan dengan pemain lainnya menurut urutan panggilan. dipimpin oleh seorang malandang.

    Tokoh-tokoh yang berjasa mengembangkan seni Sampyong antara laian: Sanen (almarhum), Abah Lewo, Mang Kiyun, Mang Karta, K. Almawi, Baron, Toto, Komar, Anah, Emin dan beberapa tokoh lainnya yang tersebar di beberapa daerah di Majalengka. Berkat keuletan para tokoh itu, Sampyong tersebar di bebeberapa daerah, seperti di Cibodas, Kulur, Sindangkasih, Cijati, Simpeureum, dan beberapa daerah lainnya. sebagai kehormatan, kelompok seni Sampyong Mekar Padesan dari Simpeereum pernah mewakili Jawa barat pada event pertunjukan seni olah raga di bali beberapa waktu yang lalu. (M. saroni, Drs. MAg.) / Propfil Kesenian Daerah kabupaten Majalengka.

      Current date/time is Sat Dec 10, 2016 1:22 pm